Pengaruh Metode Fun Learning Saat Pembelajaran Jarak Jauh Terhadap Hasil Belajar Siswa Autis SLB Putra Harapan.

Sejak munculnya pandemi covid-19 di Indonesia pada Maret tahun 2020, Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Surat edaran tersebut menjelaskan bahwa proses belajar mengajar dilaksanakan dari rumah melalui pembelajaran daring atau melalui internet. Aktivitas dan tugas pembelajaran jarak jauh dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing. SLB Putra Harapan merupakan sekolah bagi anak – anak berkebutuhan khusus dengan mengedepankan pendampingan dan pelayanan potensi anak sesuai dengan keunikannya. SLB Putra Harapan selama pandemi covid-19 juga melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran dilaksanakan dengan lebih memfokuskan materi Program Pembelajaran Individual (PPI), antara lain akademik (membaca dan berhitung), bina diri (ADL), komunikasi 2 arah dan keterampilan. Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tersebut memiliki beberapa strategi. Pertama, menggunakan metode fun learning, dengan memfasilitasi peserta didik menggunakan APE (Alat Peraga Edukatif) siswa belajar sambil bermain. Kedua, menggunakan time table, untuk mengetahui target dan banyaknya kegiatan yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Ketiga, worksheet atau lembar kerja siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode fun learning terhadap hasil belajar pada siswa autis usia 10 tahun kelas 3 SLB Putra Harapan saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan program pembelajaran individual akademik membaca kata tanpa akhiran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan orangtua dan siswa, observasi saat pembelajaran jarak jauh dan dokumentasi yang berasal dari asesmen, catatan, buku-buku, artikel dan jurnal online, dan foto yang berhubungan dengan fokus penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pembelajaran jarak jauh dengan menerapkan metode fun learning memberikan pengaruh bagi pencapaian hasil belajar pada siswa autis usia 10 tahun kelas 2 SLB Putra Harapan. Pertama, pembelajaran dengan metode fun learning membuat siswa lebih semangat belajar. Kedua, pembelajaran dengan metode fun learning membuat siswa lebih mudah dan fokus dalam menerima materi sehingga terdapat perkembangan hasil belajar siswa.

Kata Kunci : Pembelajaran Jarak Jauh, Fun Learning, Autis, membaca kata, hasil belajar.

Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Sejak wabah Covid-19 mewabah di Indonesia, pemerintah memberlakukan berbagai kebijakan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Di Indonesia penyelenggaraan pendidikan secara tatap muka terpaksa diberhentikan oleh pemerintah sebagai upaya untuk mengurangi penularan virus tersebut. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 24 Maret 2020, mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 yang berisi tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid 19).

Surat edaran tersebut menjelaskan bahwa proses belajar mengajar dilaksanakan dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Hal tersebut dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

Pembelajaran daring dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19. Aktivitas dan tugas pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah. Bukti atau produk aktivitas pembelajaran jarak jauh diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa harus memberi skor/nilai kuantitatif. Dengan pembelajaran daring atau jarak jauh siswa memiliki waktu yang banyak untuk belajar, dan siswa dapat belajar kapanpun dan dimanapun. Siswa hanya berinteraksi dengan guru melalui beberapa apilkasi atau media yang disediakan seperti classroom, video conference, telepon atau live chat, zoom maupun melalui whatsapp group (Nadiem Anwar Makarim : 2020).

Adanya perubahan sistem pembelajaran ini, menyebabkan munculnya problematika saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung. Ada beberapa faktor yang menyulitkan saat pembelajaran jarak jauh berlangsung, diantaranya yaitu peserta didik, materi, waktu, proses pembelajaran, ketersediaan teknologi, dan finansial. Tidak semua sekolah berhasil melaksanakan sistem belajar daring sesuai dengan hasil yang diharapkan, khususnya sekolah yang menangani anak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan adalah anak yang dalam tumbuh dan kembangnya mengalami hambatan atau penyimpangan baik secara fisik, mental-intelektual, sosial-emosional, dan komunikasi yang berbeda dengan anak pada umumnya atau normal sehingga membutuhkan layanan pendidikan khusus (Sulthon:2020:1).

SLB Putra Harapan merupakan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus yang berada di kawasan Waru Sidoarjo. Sekolah tersebut melayani mulai dari jenjang TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB. Pandemi covid-19 membawa pengaruh dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah tersebut. Dengan peserta didik anak berkebutuhan khusus maka perlu strategi khusus agar kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat terlaksana. Anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan khusus untuk dapat menjalani aktivitas dengan baik.

Berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran pada akhir bulan Desember tahun 2020, terlihat belum ada perkembangan yang signifikan pada peserta didik. Dari hasil analisa penyebab ketidaktercapaian perkembangan dikarenakan beberapa faktor. Pertama, karena terlalu banyak materi yang dipelajari sehingga peserta didik tidak fokus pada satu mata pelajaran. Kedua, belum ada target yang terukur pada jangka waktu tertentu, sehingga tidak dapat menilai progres pembelajaran pada peserta didik. Ketiga, masih lemahnya supervisi dan evaluasi program pembelajaran. Keempat, kurangnya sinergi keterlibatan orang tua dan guru.

Dari beberapa faktor di atas, diperlukan strategi untuk pemecahan masalah. Oleh karena itu, pada bulan Januari 2021 guru menghimpun data dan harapan wali murid terhadap perkembangan anak. Hal tersebut sebagai langkah awal untuk penyusunan program yang akan diberikan kepada peserta didik.

Berdasarkan hasil penghimpunan data dari wali murid maka ditentukan program dan juga strategi yang mulai dilaksanakan pada bulan Maret tahun 2021. Program disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik atau program pembelajaran individual (PPI). Adapun program tersebut meliputi akademik (angka, baca tulis huruf konsonan, membaca tanpa akhiran, membaca dengan akhiran, pemahaman kalimat dan menulis kalimat tunggal), perilaku (konsentrasi, kepatuhan, bina diri atau ADL), komunikasi (wicara dasar/VB dan komunilasi dua arah) dan keterampilan kerja (sosial). Program-program tersebut dilaksanakan dalam jangka waktu 3 bulan.

Sebelum dilaksanakan program pembelajaran individual (PPI) dilakukan asesmen untuk mengetahui level kemampuan peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan metode fun learning. Dengan metode tersebut, peserta didik dapat belajar sambil bermain. Saat pembelajaran berlangsung peserta didik di fasilitasi APE (Alat Peraga Edukatif) sebagai sarana penunjang pembelajaran yang mengandung nilai pendidikan dan merangsang pertumbuhan dan potensi peserta didik. Melalui media APE diharapkan mampu merangsang kreatifitas peserta didik dan menjadi media pencapaian hasil belajar. APE yang diberikan kepada peserta didik pun berbeda-beda sesuai dengan program pembelajaran individual (PPI).

Evaluasi program pembelajaran individual (PPI) dilaksanakan setap tiga bulan sekali (triwulan). Hasil evaluasi tersebut akan digunakan untuk mengetahui program peserta didik tiga bulan selanjutnya. Apakah dilanjutkan menuju tahap berikutnya atau di ulang. Apabila hasil yang dicapai baik maka peserta didik akan melanjutkan tahap selanjutnya, namun jika hasil belajar kurang maka akan di analisa mengapa tidak ada progres dan akan dicarikan solusi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak metode fun learning terhadap pencapaian hasil belajar siswa autis kelas 3 SLB Putra Harapan pada saat pembelajaran jarak jauh (PJJ).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Kualitatif deskriptif adalah penelitian yang data-datanya berupa kata (bukan angka-angka, yang berasal dari wawancara, catatan laporan, dokumen, dll).

Teknik untuk mengumpulkan data yang digunakan ada 3 cara. Pertama, wawancara. Adapun metode wawancara ditujukan kepada wali murid dengan topik konsep pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan metode fun learning, praktek pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan metode fun learning, minat siswa pada pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan metode fun learning , pencapaian hasil belajar bahasa siswa, dan beberapa pertanyaan lain yng berhubungan dengan fokus penelitian. Kemudian dilanjutkan wawancara kepada peserta didik, bagaimana perasaan saat pembelajaran dengan metode fun learning dan hasil dari belajar siswa. Kedua, observasi. Dalam metode observasi penulis melakukan pengamatan saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung, kemudian mengamati hasil pencapaian belajar sebelum dan sesudah pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan metode fun learning. Ketiga, metode dokumentasi. Metode dokumentasi yakni pengumpulan data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, buku, artikel-artikel dari jurnal online, foto dan dokumen pembelajaran yang berhubungan

dengan fokus penelitian. Adapun metode ini digunakan untuk mengetahui konsep dan praktek pembelajaran jarak jauh dengan metode fun learning di SLB Putra Harapan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas

2 SDLB Putra Harapan berinisial MFI. Berdasarkan asesmen pada saat awal masuk sekolah MFI dinyatakan menyandang autis. MFI merupakan seorang anak laki-laki yang secara fisik normal. Saat ini MFI berusia 10 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode fun learning terhadap pencapaian hasil belajar MFI pada saat pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di SLB Putra Harapan selama bulan maret-juli tahun 2021 difokuskan pada program pembelajaran individual (PPI). PPI merupakan rumusan program pembelajaran yang disusun dan dikembangkan menjadi suatu program yang didasarkan atas hasil asesmen terhadap kemapuan individu anak. Oleh karena itu sebelum membuat program pembelajran individual harus dilakukan asesmen untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anak (Musjafak:2005:2).

Hasil asesmen pada bulan Februari tahun 2021, MFI masih kesulitan berkomunikasi, sulit berkonsentrasi saat pembelajaran, belum dapat bersosialisasi dengan teman-temannya. Kemampuan MFI dalam berbicara yaitu berbicara hanya dengan kata-perkata tidak utuh satu kalimat. Kepatuhan MFI juga masih kurang dan masih kesulitan dalam berbahasa resptif (menyimak dan membaca). Hal tersebut mempengaruhi dan menjadi kendala MFI saat menerima pembelajaran khususnya saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) daring.

Kemampuan bahasa MFI saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebelum menggunakan metode Fun Learning yaitu mampu meniru membaca suku kata ba bi bu be bo dan ca ci cu ce co. MFI mampu menyalin suku kata ba bi bu be bo dan ca ci cu ce co. Dalam bidang non akademik MFI sudah mampu melakukan kegiatan motorik kasar dan motorik halus dengan baik.

Di SLB Putra Harapan program pembelajaran individual (PPI) dilaksanakan setiap hari senin-kamis dengan durasi satu jam (60 menit) persiswa. Program pembelajaran individual MFI adalah program akademik membaca kata tanpa akhiran. Kegiatan pembelajaran dengan program tersebut dilakukan dalam kurun rentang waktu bulan Maret – Juni dengan metode pembelajaran fun learning.

Fun learning merupakan strategi dalam mengajar dimana suasana dalam mengajar dan belajar dikondisikan dengan nyaman sehingga siswa dapat berkonsentrasi saat proses pembelajaran (Asmani : 2014:7). Fun learning dipilih sebagai metode belajar karena berdasarkan hasil evaluasi pada bulan Desember tahun 2020 belum terlihat adanya hasil yang signifikan terhadap pencapaian hasil pembelajaran siswa. Konsep fun learning mengarah pada pembelajaran yang diciptakan melalui desain pembelajaran yang terencana. Selain itu dalam penerapannya suasana mengajar akan dibuat senyaman mungkin untuk pembelajran sehingga proses pembelajaran lebih aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Selain itu pada masa pembelajaran jarak jauh minat belajar siswa menurun sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kembali minat serta semangat siswa dalam belajar.

Pembelajaran dengan metode fun learning dilengkapi dengan penggunaan alat peraga edukatif (APE), sehingga peserta didik diharapkan dapat membaca dan menulis 40 kata tanpa akhiran dengan mudah. Kata-kata tersebut merupakan kosakata yang sering dijumpai siswa setiap harinya. Adapun kosakata tersebut yaitu :

  1. Mama
  2. Cumi
  3. Papa
  4. Kuku
  5. Mata
  6. Baju
  7. Meja
  8. Buku
  9. Bola
  10. Keju
  11. Tiga
  12. Sapu
  13. Lima
  14. Susu
  15. Kaca
  16. Satu
  17. Rusa
  18. Biru
  19. Kuda
  20. Palu
  21. Jari
  22. Madu
  23. Kaki
  24. Paku
  25. Gigi
  26. Cabe
  27. Pipi
  28. Sate
  29. Topi
  30. Celana
  31. Dasi
  32. Sepeda
  33. Roti
  34. Kereta
  35. Nasi
  36. Sepatu
  37. Tali
  38. Boneka
  39. Sapi
  40. Polisi

Kegiatan pembelajaran dengan metode fun learning dilengkapi dengan sarana prasarana, yaitu time table, APE yang terdiri dari kartu kata, kartu gambar, kotak ajaib, huruf timbul, kardus/karton dan buku tulis. Sarana prasarana tersebut harus dipersiapkan sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung.

Kegiatan pembelajaran

Adapun langkah-langkah dalam melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan metode fun learning dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama, pendahuluan. Pembelajaran jarak jauh diawali dengan guru mengucapkan salam kepada murid. Kemudian, guru mengkondisikan kelas daring untuk memulai pembelajaran. Setelah murid siap dan fokus, guru akan melakukan pembiasaan seperti berdoa sebelum belajar dan memberikan motivasi untuk memulai pelajaran. Kemudian guru melakukan apersepsi. Kedua, kegiatan inti. Kegiatan inti yaitu kegiatan saat guru dan siswa mulai pembelajaran. Guru akan menjelaskan urutan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media time table. Pada time table tersaji urutan kegiatan pembelajaran yang harus di selesaikan dalam waktu 1 jam (60 menit). Selanjutnya kegiatan belajar dengan metode fun learning di mulai. Ketiga, penutup dan refleksi. Setelah kegiatan pembelajaran selesai, siswa dan guru melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan yang berlangsung pada hari itu. Seperti guru menanyakan kepada MFI bagaiman perasaan hari ini?, apakah sudah mengerti?, dls. Kemudian dilanjutkan pembacaan doa setelah belajar. Sebelum menutup kegiatan guru juga melakukan kegiatan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) seperti mencuci tangan, dan kegiatan diakhiri dengan mengucapkan salam.

Dalam program pembelajaran individual (PPI) membaca 40 kata tanpa akhiran ada 5 kegiatan, yaitu:

  • Kegiatan I

Siapkan kartu kata dan gambar di meja. Ambil gambar dan kartu kata yang sesuai, baca. Selesai dibaca susun gambar dibagian atas, kartu kata di bawah. Kemudian baca kembali

 

Pada kegiatan pertama MFI terlihat antusias untuk membaca kartu kata. MFI bahkan berhasil menyusun kartu kata sesuai kartu gambar secara mandiri dalam waktu 4 hari. Sehingga setiap minggunya MFI mampu menambah kosakata sesuai dengan target program membaca 40 kata tanpa akhiran. Setelah mampu membaca dan menyusun kartu secara mandiri, orangtua MFI hanya mendampingi MFI saat membaca. Hal tersebut berbeda saat MFI belajar tanpa menggunakan metode fun learning. MFI tidak menunjukkan ketertarikan saat belajar membaca. Pada saat membaca MFI hanya meniru orangtua dengan suara pelan tanpa memahami pelafalan kata yang dibaca.

Dalam program pembelajaran individual (PPI) membaca 40 kata tanpa akhiran ada 5 kegiatan, yaitu:

  • Kegiatan I

Siapkan kartu kata dan gambar di meja. Ambil gambar dan kartu kata yang sesuai, baca. Selesai dibaca susun gambar dibagian atas, kartu kata di bawah. Kemudian baca kembali

Pada kegiatan pertama MFI terlihat antusias untuk membaca kartu kata. MFI bahkan berhasil menyusun kartu kata sesuai kartu gambar secara mandiri dalam waktu 4 hari. Sehingga setiap minggunya MFI mampu menambah kosakata sesuai dengan target program membaca 40 kata tanpa akhiran. Setelah mampu membaca dan menyusun kartu secara mandiri, orangtua MFI hanya mendampingi MFI saat membaca. Hal tersebut berbeda saat MFI belajar tanpa menggunakan metode fun learning. MFI tidak menunjukkan ketertarikan saat belajar membaca. Pada saat membaca MFI hanya meniru orangtua dengan suara pelan tanpa memahami pelafalan kata yang dibaca.

 

  • Kegiatan II

Siapkan kotak bekas. Masukkan gambar ke dalam kotak. Letakkan kartu kata diatas meja. Baca kartu kata. Siswa mengambil gambar dari dalam kotak. Siswa menjodohkan gambar dengan kartu kata yang sesuai. Lakukan sampai semua gambar dalam kotak habis. Baca kembali.

Pada kegiatan kedua, MFI menyebut permainan ini dengan permainan kotak misteri. MFI terlihat semangat saat melakukan aktivitas mencocokkan kartu kata dan kartu gambar.

  • Kegiatan III

Siapkan huruf timbul/3D. Tempelkan gambar diatas meja. Siswa mengambil huruf dan menyusunnya membentuk kata sesuai gambar Siswa membaca kata. Siswa menulis kata tersebut

Pada kegiatan ketiga, MFI terlihat fokus untuk menyusun huruf menjadi kata. Pada saat MFI menulis orangtua ikut mendampingi. Dalam waktu 1 minggu MFI berhasil menyusun dan menulis kata sesuai gambar tanpa melihat kartu kata. Pada saat MFI belajar tanpa menggunakan metode fun learning, MFI tidak dapat menulis kata, MFI hanya mampu menyalin kata.

  • Kegiatan IV

Siapkan kartu gambar. Letakkan kartu kata di atas karton/kardus. Siswa membaca kartu kata di kardus. Siswa memasangkan miniatur benda dengan kata. Pada kegiatan ke empat, MFI terlihat sangat fokus untuk mencocokkan kartu kata dan gambar.

  • Kegiatan V

Siapkan kursi sejumlah kata yang akan dibaca. Tempel kartu kata pada kursi. Minta siswa duduk di kursi sesuai kata yang disebutkan guru/orang tua

Pada kegiatan kelima, MFI menyebut permainan ini dengan permainan kursi panas. Pada saat materi membaca 5 kata MFI masih menggunakan permainan kursi panas. Namun pada saat materi membaca lebih dari 5 kata MFI menggunakan cara permainan lain, yaitu mencari kartu kata kemudian membacanya. Orangtua MFI meletakkan kartu kata di beberapa tempat, kemudian MFI mencari kartu kata, jika sudah ketemu MFI akan membaca kartu kata.

Dari lima kegiatan tersebut. MFI terlihat sangat fokus dan bersemangat. Terlihat adanya ketertarikan atau minat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Sebelum dilakukan pembelajaran dengan metode fun learning MFI hanya mampu fokus selama 10-

15 menit, namun saat pembelajaran dengan metode fun learning dilaksanakan MFI mampu belajar dengan fokus selama 60 menit. Meskipun saat pembelajaran terkadang konsentrasi MFI teralihkan (terkadang tidak ada kontak mata) namun MFI mampu berhasil melakukan 5 kegiatan tersebut dengan baik.

 

Penilaian

Setiap minggunya program pembelajaran individual (PPI) membaca kata tanpa akhiran dilakukan scoring sebagai acuan hasil belajar siswa. Adapun instrument evaluasi membaca 40 kata tanpa akhiran sebagai berikut :

Tes ke : Min ggu ke Skor
1/2 1
1 1 Membaca kata 4 Membaca kata 5
2 2 Membaca kata 7 Membaca kata 8
3 3 Membaca kata 9 Membaca kata 10
4 4 Membaca 12 kata Membaca kata 13
5 5 Membaca 14 kata Membaca kata 15
6 6 Membaca 19 kata Membaca kata 20
7 7 Membaca 22 kata Membaca kata 23
8 8 Membaca 25 kata Membaca kata 26
9 9 Membaca 27 kata Membaca kata 28
10 10 Membaca 29 kata Membaca kata 30
11 11 Membaca 32 kata Membaca kata 33
12 12 Membaca 35 kata Membaca kata 36
13 13 Membaca 37 kata Membaca kata 38
14 14 Membaca 39 kata Membaca    40 kata
15 15 Membaca 39 kata Membaca    40 kata

 

Pada bulan Maret 2021 MFI mampu membaca dan menulis 15 kata. Pada bulan April-Mei MFI mampu membaca dan menulis 30 kata. Dan pada bulan Mei-Juni MFI mampu membaca dan menulis 40 kata. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan selama tiga bulan, diketahui bahwa hasil MFI setelah melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan menerapkan metode fun learning mengalami perubahan.

Terlihat pada skor evaluasi yang dilaksanakan setiap minggu, MFI berhasil sesuai dengan target yang ditententukan yaitu membaca 40 kata. Hal ini menunjukkan bahwa metode fun learning dapat mempengaruhi hasil belajar MFI. Belajar dengan menyenangkan membuat MFI dapat menerima materi yang diberikan. Hasil pembealajaran dengan diterapkan metode fun learning pada MFI berpengaruh positif.

Hasil tulisan MFI cukup rapi, terbaca dan jelas. Di sisi lain, kemampuan berbahasa MFI sejalan dengan kemampuan berbicaranya. MFI mampu menambah banyak kosakata selain dari materi yang diajarkan. Sehingga kemampuan bahasa MFI mengalami peningkatan yang cukup baik. MFI mampu mengucapkan 3 kata dalam satu kalimat. Meskipun belum kalimat penuh. Seperti cumi-cumi tinta hitam, cabe pedas, adik sepeda kakak. (adik naik sepeda bersama kakak). Hal tersebut mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi MFI dengan seseorang. MFI mampu melakukan komunikasi atau dialog dengan menjawab dengan 1-2 kata. MFI juga dapat mengunggkapkan     keinginannya,     seperti meminta atau memilih sesuatu.

Pembelajaran dengan metode fun learning menekankan pada kompetensi pendidik mengolah kelas dan juga aktivitas siswa. Dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan saat belajar MFI merasa nyaman dan antusias untuk menerima materi yang di ajarkan guru meskipun dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dengan menerapkan metode fun learning saat pembelajaran jarak jauh lebih efektif untuk menyampaikan materi serta memudahkan proses belajar yang mengakibatkan prestasi belajar peserta didik meningkat dan memotivasi peserta didik untuk dapat berperan aktif saat pembelajaran.

Pembelajaran dengan metode fun learning mendapat respon positif dari orangtua MFI. Orangtua MFI mengapresiasi hasil pembelajaran dnegan metode fun learning. Menurutnya, dengan metode ini MFI dapat memahami materi yang diberikan tanpa ada rasa jenuh dan bosan.

Tindak lanjut

Hasil evaluasi digunakan untuk mengetahui program dilanjutkan atau di ulang. Jika siswa mampu mencapai target maka program dilanjutkan. Namun jika tidak mencapai target maka akan di analisa dan dicarikan solusi.

Dari hasil analisa skor di atas MFI mampu mencapai target membaca 40 kata tanpa akhiran dalam kurun waktu bulan Maret- Juni (triwulan). Sehingga untuk tiga bulan kemudian Juli-September MFI melanjutkan program pembelajaran individual (PPI) yaitu membaca 100 kata.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan pada penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan metode fun learning pada MFI siswa autis di SDLB Putra Harapan. Pertama, pembelajaran dengan metode fun learning membuat siswa lebih semangat belajar. Pada pembelajaran dengan metode fun learning proses pembelajaran lebih aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Terlihat MFI sangat fokus saat pembelajaran berlangsung. Kedua, pembelajaran dengan metode fun learning dibekali dengan APE membuat siswa lebih mudah dalam menerima materi, sehingga terdapat perkembangan hasil belajar siswa. Hal tersebut dapat dilihat pada skoring evaluasi yang dilaksanakan setiap minggu, MFI berhasil sesuai dengan target yang ditentukan yaitu membaca 40 kata.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Makarim, Nadiem. 2020. “SE Mendikbud:      Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid- 19”

https://support.microsoft.com/id- id/office/menambahkan-catatan- kaki-dan-catatan-akhir-di-word- untuk-mac-ba7bc132-0408-4a30- 951f-e9f91af67523  (Selasa, 28 Agustus 2021, 23:36)

Asmani, Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), (Jogjakarta:DIVA Press : 2014), hal. 7

Assjari, Musjafak. Program pembelajaran Individual, (Bandung : PLB Universitas Pendidikan Indonesia, 2005), hal. 2

Sulthon, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Depok : Rajawali Pers, 2020), hal.1.

 

Penulis: Hikmatul Maulidiyah, S.Ag.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.