SLB PUTRA HARAPAN

Lebih dari Sekadar Memasak: Bagaimana Ajang Master Chef menjadikan Siswa SLB Putra Harapan Lebih Mandiri!

Sidoarjo – Suasana Hall Lantai II SLB Putra Harapan mendadak dipenuhi aroma masakan yang menggugah selera. Setelah melalui proses belajar dan praktik memasak dalam pembelajaran, para siswa SMP dan SMA SLB Putra Harapan akhirnya unjuk gigi dalam acara bertajuk “Master Chef SLB Putra Harapan”. Pihak sekolah sengaja merancang program ini agar anak-anak tidak hanya memiliki keterampilan vokasional, tetapi juga rasa percaya diri yang tinggi dan bentuk apresiasi terhadap hasil karyanya sendiri.

Acara yang berlangsung selama empat hari, mulai dari Selasa, 9 Juni hingga Senin, 15 Juni 2026 ini menjadi puncak dari rangkaian pembelajaran yang telah dilaksanakan selama satu semester. Dalam kurun waktu tersebut, mereka diajarkan teknik-teknik dasar memasak, mulai dari mengenali bahan makanan, memotong bahan makanan dengan aman, hingga menyajikan makanan secara higienis.

Kompetisi Master Chef ini dibagi menjadi beberapa kloter penampilan:

  • Selasa, 9 Juni 2026: Diikuti oleh M. Hanif Abyan, M. Lutfi Arfandi, Raisya Muhammad Pradana, dan M. Hamdan In’am Nafis.
  • Rabu, 10 Juni 2026: Diikuti oleh Laurensius Reyhan Clarence, M. Alfath Dana Putra, I Gede Airlangga M. W., Misbahul Arifin, dan Kristyani Aulya Zahra.
  • Kamis, 11 Juni 2026: Diikuti oleh Deeba Shabrina Rahmah, M. Satrio Mirza Hakim, Arnia Khansa Azzahra, Vincentius Titian H., dan Amanah Mutiara Lutfi.
  • Senin, 15 Juni 2026: Diikuti oleh M. Farrel Yufan Al-Ahnaf, M. Fadhil Rahmat Dhani, M. Marvel Yufan Al Ahnaf, Danang Dwi N., dan Alex Nugroho Hanjaya.

Setiap anak diberikan tantangan untuk mengolah hidangan andalan mereka sesuai materi yang dipelajari yaitu memasak nasi goreng atau menggoreng tempe.

Satu hal yang membuat ajang kali ini terasa sangat spesial dan emosional adalah keterlibatan langsung para orang tua. Mereka hadir untuk memberikan dukungan terbaik dan menyaksikan langsung tumbuh kembang putra-putri mereka di balik celemek memasak.

Tak sekadar menonton, beberapa perwakilan orang tua juga didapuk menjadi bagian dari dewan juri. Mereka bertugas memberikan penilaian objektif sekaligus masukan yang membangun rasa percaya diri anak-anak. Ketegangan kompetisi seketika mencair menjadi keharuan saat para orang tua mencicipi masakan hasil jerih payah anak mereka sendiri. Banyak dari mereka yang tak kuasa menahan air mata bangga melihat kemandirian yang ditunjukkan oleh sang buah hati.

Di akhir rangkaian acara, dewan juri mengumumkan nama-nama pemenang dari ajang Master Chef ini. Penilaian didasarkan pada beberapa aspek, mulai dari kebersihan (higienitas), kerja keras selama memasak, cita rasa, hingga kreativitas penyajian di atas piring dengan mempertimbangkan ketunaan masing-masing. “Melalui ajang Master Chef ini, kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan mandiri. Tiga bulan proses belajar ini adalah modal berharga bagi masa depan mereka,” ujar salah satu orang tua siswa.

Pengalaman praktik memasak yang intensif ini diharapkan tidak berhenti di sekolah saja. Keterampilan praktis (life skills) yang mereka kuasai kini menjadi fondasi kuat yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari mereka di rumah. Melalui bimbingan dan kepercayaan yang terus diberikan oleh guru serta orang tua, materi memasak ini akan menjadi jembatan yang mengantarkan mereka menjadi pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, dan siap menghadapi masa depannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top